Artikel RS Mitra Bangsa

Cari Artikel
29 Sep 2026 RS Mitra Bangsa  |  37
Sering Kesemutan? Kenali Gejala Neuropati Perifer
Pernahkah Anda merasa kesemutan pada tangan, kaki, atau jari? Kesemutan merupakan sensasi seperti geli, tertusuk-tusuk, atau mati rasa yang dalam istilah medis disebut parestesia. Kondisi ini cukup sering terjadi setelah duduk terlalu lama, menyilangkan kaki, atau tidur dalam posisi tertentu. Kesemutan yang disebabkan oleh posisi tubuh biasanya bersifat sementara dan akan membaik setelah posisi diubah atau bagian tubuh digerakkan. Namun, jika kesemutan sering terjadi, berlangsung lama, atau muncul tanpa penyebab yang jelas, kondisi ini perlu diperhatikan karena dapat menjadi tanda gangguan saraf, termasuk neuropati perifer.   Apa itu Neuropati Perifer? Neuropati perifer adalah gangguan atau kerusakan pada saraf perifer, yaitu saraf yang menghubungkan otak dan sumsum tulang belakang dengan bagian tubuh lainnya. Saraf ini berperan dalam menghantarkan sinyal untuk sensasi sentuhan, nyeri, suhu, serta gerakan tubuh. Neuropati perifer dapat memengaruhi saraf pada tangan, kaki, lengan, tungkai, maupun jari. Gejalanya dapat berbeda-beda tergantung penyebab dan tingkat keparahannya.   Apa Penyebabnya? Neuropati perifer dapat disebabkan oleh berbagai kondisi. Salah satu penyebab yang sering berkaitan dengan gangguan saraf adalah diabetes. Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat merusak saraf, terutama pada tangan dan kaki. Selain diabetes, beberapa faktor lain yang dapat menyebabkan neuropati perifer antara lain: Kekurangan vitamin B, terutama B1, B6, dan B12. Konsumsi alkohol berlebihan dalam jangka panjang. Cedera atau trauma yang mengenai saraf. Infeksi tertentu. Paparan bahan kimia atau toksin tertentu. Penyakit autoimun. Gangguan metabolik, termasuk gangguan tiroid. Kanker atau efek samping kemoterapi. Faktor genetik atau keturunan. Karena penyebabnya beragam, kesemutan yang berulang sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai akibat kekurangan vitamin. Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui penyebab yang mendasarinya.   Apa Gejalanya? Gejala neuropati perifer dapat muncul secara perlahan maupun hilang dan timbul. Kesemutan dan kebas merupakan salah satu keluhan yang sering terjadi, terutama pada tangan dan kaki. Selain kesemutan, beberapa gejala yang perlu diperhatikan antara lain: Nyeri atau rasa terbakar, terutama pada kaki dan tangan. Mati rasa atau berkurangnya sensasi, termasuk kesulitan merasakan panas, dingin, atau nyeri. Sensitif terhadap sentuhan, sehingga sentuhan ringan dapat terasa menyakitkan. Kelemahan otot, misalnya kesulitan mengangkat benda atau menggerakkan kaki. Kram atau kedutan otot. Gangguan keseimbangan dan koordinasi. Kesulitan berjalan atau melakukan aktivitas tertentu. Berkurangnya kemampuan merasakan nyeri atau suhu juga dapat meningkatkan risiko cedera tanpa disadari. Karena itu, keluhan yang menetap perlu mendapatkan perhatian ya sobat.   Bagaimana Membedakan Kesemutan Biasa dan Gangguan Saraf? Kesemutan biasa umumnya terjadi setelah bagian tubuh berada dalam posisi tertentu dalam waktu lama, misalnya duduk bersila atau menyilangkan kaki. Setelah posisi tubuh diubah, keluhan biasanya berangsur menghilang. Sementara itu, kesemutan yang berkaitan dengan gangguan saraf dapat muncul berulang tanpa penyebab yang jelas. Keluhan dapat hilang dan timbul serta dapat disertai rasa terbakar, kebas, nyeri, kram, kelemahan, atau gangguan keseimbangan.   Kapan Periksa ke Dokter? Sebaiknya konsultasikan kepada dokter jika kesemutan: Sering terjadi atau berlangsung lama. Muncul tanpa penyebab yang jelas. Disertai nyeri, rasa terbakar, atau mati rasa. Disertai kelemahan otot. Menyebabkan gangguan berjalan atau keseimbangan. Muncul hanya pada satu sisi tubuh. Kesemutan yang muncul tiba-tiba pada satu sisi tubuh, terutama jika disertai kelemahan atau gangguan fungsi tubuh lainnya, perlu segera mendapatkan pertolongan medis.   Bagaimana Penanganannya? Penanganan neuropati perifer disesuaikan dengan penyebab dan kondisi pasien. Jika penyebabnya berkaitan dengan penyakit tertentu, penanganan penyakit tersebut menjadi bagian penting dari terapi. Pada neuropati yang berkaitan dengan diabetes, misalnya, pengendalian kadar gula darah perlu diperhatikan. Dokter dapat memberikan obat sesuai kondisi untuk membantu mengurangi nyeri atau gejala neuropati. Fisioterapi juga dapat membantu meningkatkan kekuatan otot, keseimbangan, dan koordinasi gerakan. Pada kondisi tertentu, pasien dapat membutuhkan terapi okupasi atau alat bantu untuk mendukung aktivitas sehari-hari. Selain itu, menerapkan pola hidup sehat, menjaga berat badan, melakukan aktivitas fisik sesuai kemampuan, serta menghindari konsumsi alkohol dan merokok dapat membantu menjaga kesehatan secara keseluruhan.   Jangan menunggu hingga keluhan semakin berat. Jika Anda atau keluarga sering mengalami kesemutan, kebas, atau gejala yang mengarah pada neuropati perifer, segera periksa dan konsultasikan kesehatan Anda di RS Mitra Bangsa.   Untuk informasi seputar pelayanan kesehatan dapat menghubungi kami nomor berikut: Call Center      : (0295) 382555 Whatsapp        : 0811-2807-043 (Chat only)                           0822-3292-0391 (Chat only)
15 Sep 2026 RS Mitra Bangsa  |  114
Overthinking: Saat Pikiran Membuat Hal Sederhana Terasa Lebih Berat
Pernahkah Kamu memikirkan suatu masalah berulang kali, bahkan ketika masalah tersebut sebenarnya sudah selesai? Atau merasa khawatir terhadap sesuatu yang belum tentu terjadi? Kebiasaan memikirkan sesuatu secara berlebihan atau overthinking dapat membuat persoalan sederhana terasa jauh lebih berat. Pikiran terus mencari kemungkinan, menganalisis berbagai situasi, dan membuat skenario yang belum tentu terjadi. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat menguras energi mental dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Berpikir dan mempertimbangkan sesuatu merupakan hal yang normal. Namun, ketika pikiran yang berulang sulit dikendalikan dan mulai memengaruhi ketenangan, konsentrasi, tidur, hubungan dengan orang lain, atau kualitas hidup, kondisi tersebut perlu diperhatikan.   Apa Itu Overthinking? Overthinking bukan sekadar berpikir secara mendalam, tetapi merupakan pola berpikir yang berlebihan, berulang, dan sulit dihentikan, terutama mengenai masalah yang telah terjadi atau kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi. Seseorang dapat terus mempertanyakan keputusan yang telah dibuat, memikirkan kembali percakapan dengan orang lain, atau membayangkan berbagai kemungkinan negatif mengenai masa depan. Pola ini dapat membuat seseorang merasa harus menemukan kepastian sebelum merasa tenang. Padahal, tidak semua hal dalam kehidupan dapat dipastikan hasilnya.   Tanda-Tanda Overthinking Beberapa tanda yang perlu dikenali antara lain: Pikiran Terus Mencari Kemungkinan Buruk Ketika menghadapi suatu situasi, pikiran langsung berfokus pada kemungkinan negatif. Misalnya, ketika seseorang belum membalas pesan, muncul dugaan bahwa orang tersebut marah atau kita telah melakukan kesalahan. Padahal, bisa saja orang tersebut sedang bekerja, beristirahat, atau belum melihat pesan. Sudah Mendapatkan Jawaban, tetapi Masih Meragukannya Setelah mendapatkan penjelasan atau mengambil keputusan, masih muncul pertanyaan seperti, “Apakah keputusan saya sudah benar?” atau “Bagaimana jika pilihan lain lebih baik?” Keraguan yang terus berulang dapat membuat seseorang sulit merasa yakin terhadap keputusannya. Sulit Menikmati Saat Ini Terlalu banyak memikirkan masa lalu atau mengkhawatirkan masa depan dapat membuat seseorang sulit menikmati keadaan saat ini. Saat bersama keluarga atau beristirahat, pikiran justru sibuk memikirkan pekerjaan dan berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Membuat Banyak Skenario Sebelum Sesuatu Terjadi Pertanyaan seperti “Bagaimana jika gagal?” atau “Bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk?” dapat muncul berulang kali. Mempersiapkan diri memang penting, tetapi terlalu banyak membayangkan kemungkinan buruk justru dapat meningkatkan kekhawatiran dan menguras energi. Terlalu Banyak Menganalisis Perkataan Orang Lain Percakapan yang telah berlalu dapat terus dipikirkan, termasuk setiap perkataan, ekspresi, atau nada bicara orang lain. Perlu diingat, tidak semua hal yang dipikirkan merupakan fakta. Sebagian dapat berupa asumsi atau interpretasi pribadi. Sulit Mengambil Keputusan Terlalu banyak pertimbangan dapat membuat seseorang sulit menentukan pilihan. Keinginan mendapatkan keputusan yang sempurna dapat menyebabkan seseorang terus membandingkan berbagai kemungkinan dan takut mengambil risiko. Padahal, tidak semua keputusan dapat diprediksi hasilnya secara pasti.   Mengapa Overthinking Terasa Melelahkan? Pikiran yang terus bekerja tanpa jeda dapat menyebabkan kelelahan mental. Kekhawatiran yang berulang juga dapat mengganggu konsentrasi dan membuat seseorang sulit mengalihkan perhatian dari masalah. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat berdampak pada tidur, pekerjaan, hubungan sosial, dan aktivitas sehari-hari. Karena itu, penting mengenali ketika proses berpikir sudah berubah menjadi kekhawatiran yang berlebihan dan sulit dikendalikan.   Cara Mengatasi Overthinking Mengatasi overthinking bukan berarti harus berhenti berpikir, tetapi belajar mengarahkan pikiran secara lebih realistis. Beberapa langkah yang dapat dilakukan: Bedakan fakta dan asumsiTanyakan, “Apa yang benar-benar saya ketahui?” dan “Apakah ini fakta atau hanya kemungkinan?” Fokus pada hal yang dapat dikendalikanAlihkan perhatian pada tindakan yang dapat dilakukan saat ini daripada terus memikirkan hasil yang belum diketahui. Berikan jeda untuk pikiranLakukan aktivitas yang membantu menenangkan diri, seperti berjalan kaki, berolahraga, melakukan hobi, beristirahat, atau latihan pernapasan. Belajar menerima ketidakpastianTidak semua keraguan harus mendapatkan jawaban segera. Sebagian hal memang tidak dapat dipastikan. Berbicara dengan orang yang dipercayaMenceritakan kekhawatiran kepada orang yang dipercaya dapat membantu melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda.   Kapan Saat yang Tepat Untuk Berkonsultasi? Overthinking perlu mendapatkan perhatian apabila berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari. Konsultasi dengan tenaga kesehatan atau profesional kesehatan mental dapat dipertimbangkan apabila mengalami kesulitan tidur, sulit berkonsentrasi, merasa sangat cemas atau tertekan, kesulitan menjalankan aktivitas, atau merasa tidak mampu mengendalikan pikiran. Mencari bantuan profesional bukan berarti seseorang tidak mampu menghadapi masalah. Mendapatkan bantuan yang tepat merupakan salah satu langkah untuk menjaga kesehatan mental dan meningkatkan kualitas hidup.   Pesan untuk Kamu Overthinking dapat membuat seseorang menghabiskan banyak energi untuk menghadapi sesuatu yang bahkan belum tentu terjadi. Tidak semua kemungkinan perlu dipikirkan sampai selesai. Tidak semua pikiran merupakan fakta. Ketika pikiran mulai berputar tanpa henti, cobalah berhenti sejenak dan tanyakan: “Apakah ini benar-benar sedang terjadi, atau baru terjadi dalam pikiran saya?” Kemudian, kembalikan perhatian pada hal yang dapat dilakukan saat ini. Menjaga kesehatan mental merupakan bagian penting dari menjaga kesehatan secara menyeluruh. Apabila Anda atau orang terdekat mengalami keluhan yang mengganggu aktivitas dan kualitas hidup, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.   Untuk informasi seputar pelayanan kesehatan dapat menghubungi kami nomor berikut: Call Center      : (0295) 382555 Whatsapp        : 0811-2807-043 (Chat only)                           0822-3292-0391 (Chat only)
28 Aug 2026  |  78
Sakit Tenggorokan, Virus atau Bakteri? Kenali Bedanya dan Jangan Asal Minum Antibiotik
“Dok, tenggorokan saya sakit. Apakah perlu antibiotik?” Pertanyaan ini cukup sering muncul ketika seseorang mengalami sakit tenggorokan. Namun, sakit tenggorokan tidak selalu berarti infeksi bakteri. Sebagian besar sakit tenggorokan disebabkan oleh infeksi virus dan dapat membaik dengan sendirinya dalam beberapa hari. Antibiotik hanya digunakan untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Karena itu, penggunaan antibiotik sebaiknya berdasarkan pemeriksaan dan anjuran dokter, bukan hanya karena tenggorokan terasa sakit atau terlihat merah.   Apa Penyebab Sakit Tenggorokan? Sakit tenggorokan dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, antara lain: Infeksi virus Infeksi bakteri Asap rokok atau polusi Alergi Udara kering atau iritasi Penyebab yang paling sering adalah infeksi virus, misalnya virus yang menyebabkan flu. Gejala yang muncul, seperti: Tenggorokan terasa sakit Batuk Pilek Bersin Suara serak Demam Badan terasa lemas   Virus atau Bakteri? Kenali Ciri-cirinya Gejala saja tidak selalu dapat memastikan apakah penyebabnya virus atau bakteri. Namun, terdapat beberapa tanda yang dapat diketahui: Lebih Mengarah ke Infeksi Virus Sakit tenggorokan yang disebabkan virus lebih sering disertai gejala seperti: Batuk Pilek Bersin Suara serak Mata berair atau merah Jika keluhan muncul bersama gejala seperti batuk dan pilek, penyebab virus lebih mungkin dibandingkan infeksi bakteri tertentu. Lebih Mencurigakan Infeksi Bakteri Infeksi bakteri dapat lebih diketahui jika terdapat: Demam Nyeri tenggorokan berat Amandel membesar Bercak putih pada amandel Kelenjar leher terasa nyeri Tidak disertai batuk Namun, tenggorokan merah atau adanya bercak putih pada amandel tidak otomatis berarti infeksi bakteri. Beberapa infeksi virus juga dapat menimbulkan kondisi tersebut. Oleh karena itu, dokter akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut guna mengetahui penyebabnya sehingga dapat dilakukan penanganan yang tepat.   Mengapa Antibiotik Tidak Boleh Diminum Sembarangan? Antibiotik digunakan untuk melawan bakteri, bukan virus. Jika sakit tenggorokan disebabkan oleh virus, antibiotik tidak akan membantu mempercepat penyembuhan. Mengonsumsi antibiotik tanpa indikasi justru dapat menimbulkan risiko. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menyebabkan: Mual Diare Sakit perut Reaksi alergi Bakteri menjadi kebal terhadap antibiotik Karena itu, jangan menggunakan: Sisa antibiotik dari pengobatan sebelumnya Antibiotik milik orang lain Antibiotik tanpa resep dokter Antibiotik bukan obat untuk semua jenis infeksi. Penggunaannya harus tepat jenis, dosis, dan lama pemberiannya.   Apa yang Bisa Dilakukan di Rumah? Jika sakit tenggorokan disebabkan oleh virus dan tidak terdapat tanda bahaya, keluhan umumnya dapat membaik dengan perawatan suportif. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk membantu mengurangi keluhan antara lain: Minum cukup air untuk membantu mencegah dehidrasi dan menjaga tenggorokan tetap lembap. Istirahat yang cukup agar tubuh memiliki kesempatan untuk memulihkan diri. Konsumsi makanan yang lembut dan mudah ditelan jika tenggorokan terasa sakit saat makan. Hindari asap rokok, termasuk paparan asap rokok dari orang lain. Konsumsi obat pereda nyeri atau penurun demam bila diperlukan, sesuai aturan pakai dan kondisi kesehatan masing-masing. Tidak semua sakit tenggorokan membutuhkan antibiotik. Yang terpenting adalah mengetahui penyebabnya dan menangani keluhan sesuai kondisi.   Kapan Harus ke Dokter? Segera periksakan diri ke dokter jika sakit tenggorokan disertai: Sakit tenggorokan semakin berat Demam tinggi atau menetap Sulit menelan Sulit bernapas Air liur terus keluar karena sulit menelan Leher membengkak Nyeri sangat berat, terutama pada satu sisi tenggorokan Mulut sulit dibuka Tubuh terasa sangat lemas Keluhan tidak membaik atau justru semakin berat   Pada Anak, Waspadai Tanda Berikut Anak perlu segera mendapatkan pemeriksaan apabila: Sulit minum Jarang buang air kecil Sangat lemas atau tampak mengantuk tidak seperti biasanya Mengalami kesulitan bernapas Jika terdapat kesulitan bernapas atau kondisi darurat lainnya, segera cari pertolongan medis.   Apakah Sakit Tenggorokan Perlu Antibiotik? Belum tentu. Jika penyebabnya adalah virus, lakukan: Beristirahat cukup Minum air yang cukup Mengurangi gejala sesuai anjuran Jika dokter mencurigai infeksi bakteri, dokter akan menentukan apakah antibiotik diperlukan. Sakit tenggorokan tidak otomatis membutuhkan antibiotik. Ingat! Sebagian besar sakit tenggorokan disebabkan oleh virus, bukan bakteri, sehingga tidak selalu membutuhkan antibiotik. Tenggorokan merah atau bercak putih pada amandel juga tidak selalu berarti harus minum antibiotik. Jangan mengonsumsi antibiotik tanpa resep atau anjuran dokter karena penggunaan yang tidak tepat dapat menimbulkan efek samping dan meningkatkan risiko resistensi antibiotik. Gunakan antibiotik hanya jika memang diperlukan dan sesuai anjuran dokter, ya sobat.     Untuk informasi seputar pelayanan kesehatan dapat menghubungi kami nomor berikut: Call Center                              : (0295) 382555 Whatsapp Informasi Layanan                  : 0822-3292-0291 Pendaftaran Rawat Jalan         : 0811-2807-043 Pendaftaran Rawat Inap          : 0811-2886-881   Sumber: Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Clinical Guidance for Group A Streptococcal Pharyngitis. Shulman ST, et al. Clinical Practice Guideline for the Diagnosis and Management of Group A Streptococcal Pharyngitis. Clinical Infectious Diseases. 2012.
24 Aug 2026 RS Mitra Bangsa  |  92
Apa Itu Poliklinik Painless? Kenali Layanan yang Membantu Mengatasi Nyeri Tanpa Operasi
Nyeri bukan sekadar rasa sakit. Nyeri yang berlangsung terus-menerus dapat mengganggu tidur, pekerjaan, aktivitas sehari-hari, hingga menurunkan kualitas hidup. Karena itu, diperlukan penanganan yang tidak hanya berfokus pada menghilangkan rasa sakit, tetapi juga mencari penyebab dan membantu pasien kembali beraktivitas dengan nyaman (integrated pain service). Salah satu layanan yang secara khusus menangani kondisi tersebut adalah Poliklinik Painless atau Pain Clinic, yaitu layanan kesehatan yang berfokus pada evaluasi dan penanganan nyeri, terutama nyeri yang menetap, berulang, atau kompleks.   Apa Itu Poliklinik Painless? Poliklinik Painless merupakan layanan yang dirancang untuk membantu pasien dengan berbagai keluhan nyeri melalui pendekatan yang disesuaikan dengan penyebab dan mekanisme nyeri. Berbeda dengan anggapan bahwa klinik nyeri hanya memberikan obat atau suntikan, proses penanganan biasanya diawali dengan evaluasi menyeluruh. Dokter dapat menilai riwayat keluhan, lokasi dan pola nyeri, fungsi saraf, kekuatan otot, kondisi sendi, aktivitas sehari-hari, kualitas tidur, serta faktor lain yang dapat memengaruhi pengalaman nyeri. Dengan demikian, tujuan Poliklinik Painless bukan semata-mata membuat pasien "tidak merasakan sakit sama sekali", tetapi membantu mengurangi nyeri, memperbaiki fungsi tubuh, meningkatkan kualitas tidur, dan mengembalikan kemampuan pasien dalam menjalani aktivitas sehari-hari.   “Comprehensive pain management for a better quality of life”   Nyeri Apa Saja yang Dapat Ditangani? Nyeri dapat memiliki berbagai penyebab dan karakteristik. Beberapa jenis keluhan yang dapat dievaluasi di layanan nyeri antara lain: 1. Nyeri otot, tulang, dan sendi (Muskuloskeletal) Contohnya meliputi: Nyeri punggung bawah Nyeri leher dan bahu Nyeri lutut Nyeri pinggul Nyeri akibat osteoarthritis Nyeri otot yang menetap Keluhan tersebut dapat membatasi gerakan dan membuat seseorang kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari. 2. Nyeri akibat gangguan saraf (neuropathic) Nyeri neuropatik dapat memiliki sensasi yang berbeda dari nyeri biasa. Pasien dapat merasakan nyeri seperti terbakar, tertusuk, kebas, kesemutan, atau seperti tersengat listrik. Kondisi yang dapat berkaitan dengan nyeri saraf antara lain: Saraf terjepit Neuropati akibat diabetes Cedera saraf Nyeri setelah herpes zoster Nyeri setelah operasi Gangguan saraf lainnya 3. Nyeri setelah cedera atau operasi Pada sebagian pasien, rasa nyeri dapat tetap muncul meskipun luka atau jaringan tampak sudah sembuh. Kondisi tersebut perlu dievaluasi untuk mengetahui kemungkinan sumber nyeri, misalnya dari saraf, jaringan parut, sendi, otot, atau peningkatan sensitivitas sistem saraf. 4. Nyeri kronis dan kompleks (Kanker, Nyeri Neuropatik, Complex Regional Pain Syndrome, Pasca Stroke) Beberapa kondisi dapat menyebabkan nyeri yang berlangsung lama atau sulit ditentukan sumbernya. Karena melibatkan berbagai faktor, diperlukan evaluasi yang lebih komprehensif dan terkadang melibatkan beberapa tenaga kesehatan.     Kapan Sebaiknya Berkonsultasi ke Poliklinik Painless? Jangan menunggu sampai nyeri menjadi sangat berat. Konsultasi kesehatan anda apabila mengalami: Nyeri berlangsung atau berulang selama lebih dari tiga bulan. Nyeri tidak membaik meskipun sudah mendapatkan pengobatan diawal. Nyeri sering kambuh setelah obat dihentikan. Nyeri mengganggu tidur, pekerjaan, atau aktivitas sehari-hari. Nyeri menjalar ke tangan atau kaki. Muncul rasa terbakar, kesemutan, kebas, atau seperti tersetrum. Gerakan tubuh semakin terbatas. Penggunaan obat nyeri semakin sering atau dosis terus meningkat. Hasil pemeriksaan belum menjelaskan seluruh keluhan. Nyeri menyebabkan stres, takut bergerak, atau penurunan kualitas hidup.     Apa yang Dilakukan Saat Berkunjung ke Poliklinik Painless? Pasien tidak langsung menjalani tindakan. Dokter terlebih dahulu melakukan penilaian untuk memahami karakteristik dan penyebab nyeri, seperti: 1. Menggali riwayat nyeri Dokter akan menanyakan kapan nyeri mulai muncul, lokasi dan arah penjalarannya, karakter atau sensasi nyeri, aktivitas yang memperberat atau mengurangi nyeri, pengobatan yang pernah dilakukan, serta pengaruh nyeri terhadap tidur dan aktivitas. 2. Pemeriksaan fisik dan saraf Pemeriksaan dapat meliputi postur, rentang gerak, kekuatan otot, refleks, sensasi kulit, kestabilan sendi, serta area yang memicu nyeri. Pemeriksaan ini membantu dokter memperkirakan sumber dan mekanisme nyeri. 3. Meninjau pemeriksaan sebelumnya Dokter dapat mempertimbangkan hasil MRI, rontgen, USG, pemeriksaan saraf, atau pemeriksaan laboratorium yang telah dilakukan sebelumnya. Pemeriksaan tambahan diberikan apabila memang diperlukan untuk membantu diagnosis atau menentukan terapi. 4. Menentukan rencana terapi Setelah evaluasi, dokter menentukan rencana penanganan berdasarkan penyebab, mekanisme nyeri, kondisi kesehatan, serta kebutuhan pasien. Tidak semua pasien membutuhkan obat jangka panjang atau tindakan intervensi. Input -> Assessment nyeri -> Diagnosis -> Strategi -> Terapi -> Evaluasi -> Rehabilitasi -> Follow Up Poliklinik Painless hadir sebagai pilihan layanan bagi pasien yang membutuhkan evaluasi dan penanganan nyeri secara komprehensif, terarah, dan sesuai indikasi medis. Penanganan tidak hanya berfokus pada mengurangi intensitas nyeri, tetapi juga membantu pasien bergerak lebih baik, tidur lebih nyaman, kembali beraktivitas, serta meningkatkan kemampuan dalam mengelola nyeri. Klinik Manajemen Nyeri menerapkan pendekatan biopsikososial dan multimodal yang terintegrasi dengan pelayanan rumah sakit secara komprehensif dan berkesinambungan. Setiap pasien dinilai secara menyeluruh, tidak hanya berdasarkan tingkat nyeri, tetapi juga mempertimbangkan fungsi fisik, kondisi psikologis, kualitas hidup, serta kemampuan pasien dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Untuk memberikan penanganan yang tepat dan menyeluruh, layanan nyeri didukung oleh tim multidisiplin/interdisiplin yang melibatkan berbagai bidang, yaitu Anestesi, Rehabilitasi Medik, Saraf, Orthopedi, Penyakit Dalam, Bedah, Radiologi, Farmasi, Fisioterapi, dan Psikologi. Kolaborasi antarprofesi ini memungkinkan setiap pasien mendapatkan strategi penanganan yang disesuaikan dengan penyebab, kondisi, dan kebutuhan masing-masing. Penanganan dapat berupa terapi noninvasif maupun prosedur tertentu sesuai indikasi medis, dengan tujuan tidak sekadar membuat nyeri berkurang, tetapi membantu pasien mendapatkan kembali fungsi dan kualitas hidup yang lebih baik. Kenali penyebab nyeri, jangan biarkan nyeri membatasi aktivitas Anda. Segera konsultasikan kondisi Anda di RS Mitra Bangsa dan dapatkan penanganan yang tepat untuk kembali beraktivitas dengan lebih nyaman.     Untuk informasi seputar pelayanan kesehatan dapat menghubungi kami nomor berikut: Call Center                              : (0295) 382555 Whatsapp Informasi Layanan                  : 0822-3292-0291 Pendaftaran Rawat Jalan         : 0811-2807-043 Pendaftaran Rawat Inap          : 0811-2886-881
13 Aug 2026 RS Mitra Bangsa  |  210
Kenali Perbedaan Gatal Biasa dan Gatal Akibat Diabetes
Gatal pada kulit merupakan keluhan yang sering dialami oleh banyak orang. Penyebabnya beragam, mulai dari alergi, iritasi, gigitan serangga, kulit kering, hingga infeksi. Namun, jika rasa gatal berlangsung lama, sering kambuh, atau bahkan sulit membaik, kondisi tersebut sebaiknya tidak diabaikan. Pada penderita diabetes, gatal dapat berkaitan dengan kadar gula darah yang tinggi maupun komplikasi diabetes, seperti kulit kering, gangguan saraf atau neuropati diabetik, gangguan sirkulasi darah, dan infeksi kulit. Karena itu, mengenali perbedaan gatal biasa dan gatal akibat diabetes penting agar penanganan dapat dilakukan dengan tepat.   Apa Itu Gatal Akibat Diabetes? Gatal akibat diabetes merupakan rasa gatal yang dapat muncul sebagai dampak dari kondisi diabetes dan komplikasinya. Kadar gula darah yang tinggi dapat memengaruhi kondisi kulit, saraf, maupun sirkulasi darah. Pada beberapa kondisi, gatal dapat menjadi salah satu tanda yang perlu diperhatikan, terutama apabila berlangsung terus-menerus dan disertai keluhan lain seperti kulit sangat kering, kesemutan, mati rasa, atau sensasi terbakar pada kaki.   Perbedaan Gatal Biasa dan Gatal Diabetes Untuk membedakan gatal biasa dan gatal diabetes sebagai berikut: 1. Perbedaan penyebab Gatal biasa umumnya disebabkan oleh faktor sederhana seperti alergi, iritasi, gigitan serangga, cuaca kering, atau masalah kulit tertentu. Di sisi lain, gatal akibat diabetes dapat berkaitan dengan kadar gula darah yang tinggi. Kondisi tersebut dapat menyebabkan kulit menjadi kering, mengganggu sirkulasi darah, menyebabkan kerusakan saraf, serta meningkatkan risiko infeksi bakteri dan jamur. 2. Perbedaan lokasi Gatal biasa dapat muncul di berbagai bagian tubuh dan biasanya tidak memiliki pola tertentu. Pada penderita diabetes, rasa gatal lebih sering dirasakan pada bagian tertentu, terutama kaki bagian bawah, kaki, dan tangan. Hal ini dapat berkaitan dengan gangguan saraf atau sirkulasi darah. 3. Perbedaan kondisi kulit Pada gatal biasa, kulit dapat mengalami kemerahan, ruam, atau pembengkakan sesuai penyebabnya. Sememtara itu gatal yang berkaitan dengan diabetes dapat disertai kulit sangat kering, kasar, bersisik, dan mudah pecah-pecah. Gatal juga dapat muncul tanpa ruam yang jelas. Pada kondisi tertentu, dapat muncul perubahan warna atau kelainan kulit lainnya. 4. Perbedaan durasi dan intensitas Gatal biasa umumnya membaik setelah faktor pemicunya diatasi. namun gatal akibat diabetes cenderung lebih menetap, berulang. Rasa gatal dapat tetap muncul meskipun telah mendapatkan perawatan kulit sederhana.   Mengapa Diabetes Bisa Menyebabkan Gatal? Beberapa kondisi yang berkaitan dengan diabetes dapat memicu gatal, antara lain: Kulit kering (xerosis), kadar gula darah yang tinggi dapat menyebabkan perubahan keseimbangan cairan tubuh sehingga kulit menjadi lebih kering dan mudah gatal. Neuropati diabetic, kerusakan saraf akibat kadar gula darah tinggi dalam jangka panjang dapat menyebabkan kesemutan, mati rasa, sensasi terbakar, nyeri, maupun rasa gatal, terutama pada kaki. Gangguan sirkulasi darah, gangguan aliran darah dapat membuat kulit lebih rentan mengalami kekeringan dan menimbulkan rasa gatal. Infeksi kulit, penderita diabetes lebih rentan mengalami infeksi bakteri maupun jamur yang dapat menimbulkan rasa gatal.   Bagaimana Cara Merawat Kulit untuk Mencegah Gatal Diabetes? Bagi penderita diabetes, menjaga kesehatan kulit merupakan bagian penting dari perawatan diri. Berikut langkah yang dapat dilakukan seperti: Menjaga kadar gula darah tetap terkontrol sesuai anjuran dokter. Memeriksa kulit dan kaki setiap hari untuk mendeteksi luka, kemerahan, atau infeksi. Menggunakan pelembap secara rutin, terutama setelah mandi. Menghindari mandi dengan air terlalu panas. Menggunakan produk perawatan kulit yang lembut dan tidak mengiritasi. Menghindari menggaruk area yang gatal agar tidak menimbulkan luka. Menjaga kebersihan tubuh termasuk sela-sela jari.   Kapan Gatal Akibat Diabetes Harus Diperiksakan? Jangan menunggu hingga keluhan semakin berat. Konsultasikan dengan dokter apabila gatal tidak kunjung membaik, sering kambuh, mengganggu aktivitas atau tidur, atau disertai luka dan tanda infeksi seperti kemerahan, pembengkakan, atau keluar cairan. Terlebih jika gatal disertai kesemutan, mati rasa, sensasi terbakar, atau nyeri pada kaki. Pemeriksaan lebih awal penting untuk mengetahui penyebab dan mencegah komplikasi yang lebih serius. Kesimpulan Gatal tidak selalu sekadar masalah kulit. Gatal yang menetap, terutama pada kaki, dapat berkaitan dengan diabetes atau komplikasinya. Jangan lupa untuk menjaga kadar gula darah, merawat kesehatan kulit, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.   Jangan abaikan gatal yang tak kunjung hilang, kenali tanda-tandanya, jaga kadar gula darah tetap terkontrol, dan lakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Jika memiliki keluhan atau faktor risiko diabetes, segera konsultasikan kesehatan keluarga Anda di RS Mitra Bangsa agar mendapat informasi serta penanganan yang sesuai.   Untuk informasi seputar pelayanan kesehatandapat menghubungi kami nomor berikut:Call Center      : (0295) 382555Whatsapp        : 0811-2807-043 (Chat only)                          0822-3292-0391 (Chat only)
25 Jul 2026 RS Mitra Bangsa  |  221
Mengapa Hepatitis B Disebut Silent Killer? Kenali Gejala Awalnya
Banyak Orang Terinfeksi Tanpa Menyadarinya Pernahkah Anda mendengar kata "silent killer" atau "pembunuh diam-diam"? Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan penyakit yang berkembang tanpa menimbulkan gejala yang jelas, sehingga penderita baru mengetahui ketika telah memasuki stadium lanjut. Salah satu penyakit yang termasuk dalam kategori ini yaitu Hepatitis B. Hepatitis B merupakan infeksi virus yang menyerang hati. Banyak penderita tidak mengalami gejala yang khas, terutama selama fase awal atau infeksi kronis. Akibatnya, virus dapat merusak hati tanpa disadari selama bertahun-tahun hingga akhirnya menyebabkan komplikasi serius seperti sirosis (pengerasan hati) atau kanker hati. Oleh karena itu, mengenali Hepatitis B sejak dini  menjadi sangat penting untuk mencegah penularan dan mendapatkan pengobatan sebelum terjadi kerusakan hati yang permanen.   Apa Itu Hepatitis B? Hepatitis B adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Virus Hepatitis B (HBV) yang menyerang sel-sel hati. Penyakit ini dapat bersifat: Akut, yaitu infeksi yang berlangsung kurang dari enam bulan dan umumnya sembuh sepenuhnya. Kronis, yaitu infeksi yang meningkatkan risiko kerusakan hati jangka panjang karena virus tetap berada di dalam tubuh selama lebih dari enam bulan. Tidak semua orang yang terinfeksi akan menunjukkan gejala. Banyak dari mereka yang terinfeksi masih merasa sehat meskipun virus terus berkembang di dalam tubuh mereka.   Mengapa Hepatitis B Disebut Silent Killer? Karena sebagian besar penderita hepatitis B tidak menunjukkan gejala pada tahap awal penyakit, penyakit ini dikenal sebagai Silent Killer atau pembunuh tanpa suara. Setelah gejala muncul, kerusakan hati seringkali sudah terjadi dalam waktu yang lama. Virus ini dapat menyebabkan peradangan kronis yang perlahan merusak jaringan hati. Jika tidak terdeteksi dan ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi: Sirosis hati Kanker hati   World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa pada tahun 2022, sekitar 254 juta orang hidup dengan Hepatitis B kronis di seluruh dunia, dengan sekitar 1,2 juta infeksi baru setiap tahun. WHO juga menyatakan bahwa Hepatitis B menyebabkan sekitar 1,1 juta kematian setiap tahun, terutama karena sirosis dan kanker hati. Data ini menunjukkan bahwa Hepatitis B masih merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling mendesak di dunia.   Kenali Gejala Awal Hepatitis B Sebagian besar penderita tidak menunjukkan gejala apa pun. Namun, jika ada gejala, Kamu harus memperhatikan beberapa tanda berikut: Mudah lelah Nafsu makan menurun Mual dan muntah Nyeri pada perut kanan atas (area hati) Demam ringan Nyeri otot dan sendi Urine berwarna gelap Kulit dan mata menguning Bagaimana Hepatitis B Menular? Virus Hepatitis B menular melalui darah dan cairan tubuh yang terinfeksi, antara lain melalui: Penularan dari ibu ke bayi saat persalinan. Hubungan seksual tanpa pengaman dengan orang yang terinfeksi. Penggunaan jarum suntik secara bergantian. Penggunaan alat tindik, tato, atau alat cukur yang tidak steril. Paparan darah yang terkontaminasi. Perlu diingat bahwa berjabat tangan, berpelukan, bersalaman, berbagi makanan atau minuman, batuk, bersin, dan gigitan nyamuk tidak dapat menyebabkan Hepatitis B menular. Informasi ini sangat penting untuk mengurangi stigma yang melekat pada orang yang menderita Hepatitis B.   Cara Mencegah Hepatitis B Kabar baiknya, Hepatitis B merupakan salah satu penyakit yang dapat dicegah, yaitu dengan langkah pencegahan sebagai berikut: Melakukan vaksinasi Hepatitis B Melakukan skrining Hepatitis B, terutama bagi kelompok berisiko. Tidak menggunakan jarum suntik secara bergantian Memastikan alat medis, tindik, dan tato dalam kondisi steril Menerapkan hubungan seksual yang aman Ibu hamil melakukan pemeriksaan Hepatitis B sebagai bagian dari pemeriksaan kehamilan untuk mencegah penularan kepada bayi Kesimpulan Hepatitis B disebut sebagai silent killer karena sering tidak menimbulkan gejala pada tahap awal, sementara virus terus merusak hati secara perlahan. Tanpa deteksi dan penanganan yang tepat, penyakit ini dapat berkembang menjadi sirosis hati dan kanker hati. Meskipun demikian, Hepatitis B dapat dicegah melalui vaksinasi, perilaku hidup sehat, dan pemeriksaan kesehatan secara berkala bagi mereka yang berisiko. Jangan menunggu gejala muncul. Semakin dini Hepatitis B terdeteksi, semakin besar peluang untuk menjaga kesehatan hati dan mencegah komplikasi yang serius. Lindungi diri, keluarga, dan orang tercinta agar terhindar dari penyakit Hepatitis B. Hati yang sehat merupakan investasi untuk masa depan yang lebih baik. Segera konsultasikan kesehatan keluarga Anda di RS Mitra Bangsa karena kesehatan anda adalah kebahagiaan kami Untuk informasi seputar pelayanan kesehatandapat menghubungi kami nomor berikut:Call Center      : (0295) 382555Whatsapp        : 0811-2807-043 (Chat only)                          0822-3292-0391 (Chat only)