rsmb news | 09 July 2025
RS Mitra Bangsa    776

Kenalan Sama “Toxic Positivity”

Toxic positivity adalah kondisi ketika seseorang memaksakan diri atau orang lain untuk selalu berpikir positif, menolak atau mengabaikan emosi negatif yang sedang dirasakan secara berlebihan. Padahal, emosi negatif seperti marah, sedih, atau kecewa adalah bagian alami dari pengalaman manusia.

 

Memilih untuk berpikiran positif bukan hal yang salah, hal tersebut bisa menjadi motivasi untuk kita memperbaiki diri. Namun, ada ciri-ciri toxic positivity yang perlu diwaspadai. Diantaranya:

 

Menghindari atau menolak emosi negatif: Ketika menghadapi seseorang yang sedang merasa sedih atau marah, orang dengan toxic positivity akan berusaha meyakinkan lawan bicaranya untuk mengalihkan perhatian dengan mengatakan, seperti “jangan menangis,” tanpa memberikan kesempatan untuk seseorang memproses emosi tersebut.

 

Memberikan nasihat dengan cara meremehkan: Orang dengan toxic positivity juga cenderung memberikan nasihat yang meremehkan perasaan orang lain, seperti “Harusnya kamu bersyukur”, padahal orang yang sedang merasakan emosi negatif perlu waktu dan dukungan untuk memproses emosi yang dirasakan.

 

Merasa bersalah saat merasakan emosi negatif: Orang yang mengalami toxic positivity pada dirinya sendiri sering merasa bersalah atau malu ketika merasakan emosi negatif, karena menganggapnya sebagai kelemahan.

 

Menyamar sebagai optimisme: Meyakinkan lawan bicara untuk bersikap optimis, bahkan dalam situasi yang tidak memungkinkan untuk bersikap positif, seperti mengucapkan kalimat “selalu lihat sisi baiknya” atau “positifkan pikiranmu” di segala kondisi