rsmb news | 29 April 2025
RS Mitra Bangsa    729

Mengenal Adverse Childhood Experience Lewat Film “JUMBO”

Adverse Childhood Experience adalah pengalaman tidak menyenangkan yang dialami saat masa kecil. ACEs didefinisikan sebagai kejadian-kejadian yang membuat anak terluka atau tertekan di masa kecil hingga berdampak pada perkembangan kesehatan fisik dan psikologisnya. Pengalaman ini biasanya disebabkan oleh lingkungan sekitar atau. Refleksi ACEs dapat ditemukan pada latar belakang beberapa karakter film “JUMBO”. Seperti karakter Don yang kehilangan orangtua, Maesaroh dan Nurman yang dikisahkan hidup bersama kakek tanpa peran orangtua secara emosional, dan Atta yang tumbuh tanpa orang tua dalam kondisi kemiskinan. Isu perundungan anak-anak yang diceritakan dalam hubungan antara Don dan Atta. Perundungan adalah masalah nyata yang kompleks pada lingkungan anak-anak dan berpotensi mengalami masalah kesehatan mental di kemudian hari.

 

Melalui film JUMBO, penonton dihadapkan pada realitas terhadap peran keluarga dan lingkungan bagi pengembangan karakter anak. Trauma pada anak dapat membekas bahkan seumur hidup. Agar trauma tersebut dapat hilang atau tidak mengganggu pertumbuhan anak, peran orangtua dalam mendeteksi dan mengatasi trauma sangat penting dilakukan. Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk membekali anak bukan hanya dengan apa yang mereka inginkan, tapi yang benar-benar mereka butuhkan.

 

Beberapa gejala trauma pada anak yang harus diwaspadai orang tua antara lain:

Perubahan Perilaku

Salah satu hal yang perlu orang tua waspadai karena bisa menjadi gejala trauma pada anak adalah perubahan perilaku, contohnya anak yang sudah tidak mengompol tiba-tiba menjadi sering mengompol karena perasaan cemas, atau yang paling parah jika anak menolak untuk makan sehingga berdampak pada masalah kesehatan lainnya.

 

Perubahan Emosi

Perubahan emosi merupakan gejala yang paling mungkin terlihat etika anak mengalami trauma. Anak yang mengalami trauma biasanya menjadi lebih sering ketakutan, bahkan pada sesuatu yang seharusnya tidak perlu ia takuti. Selain itu, anak juga sering merasa sedih dan menangis tanpa sebab. Bahkan, tak jarang ia suka menyalahkan dirinya sendiri.

 

Menjadi Pendiam

Parents harus wasapda jika mendapati buah hati yang biasanya periang dan terbuka dengan orang tuanya, lalu mendadak menjadi pendiam dan tertutup, apalagi jika anak sampai menjauh. Cobalah untuk berbicara dari hati ke hati dan tanyakan apa yang sedang mereka pikirkan atau seputar perubahan perilakunya tersebut. Jika pendekatan yang parents lakukan berhasil, biasanya sedikit demi sedikit anak akan bercerita.

 

Menjadi Manja

Oleh karena ingin memperoleh perhatian lebih, biasanya anak akan menjadi lebih manja. Sebaiknya jangan langsung memarahi anak. Berusahalah untuk melakukan pendekatan dan tanyakan kepada anak apa yang membuatnya bersikap seperti itu.

 

Parents harus lebih sabar dalam menghadapi situasi anak dengan trauma. Jangan biarkan anak berlarut larut pada trauma yang dialaminya karena dapat menyebabkan anak semakin cemas dan takut. Untuk melatih keberanian anak keluar dari traumanya, pastikan parents melakukannya secara bertahap. Misalnya, mulai dengan kenalkan anak pada sumber traumanya atau latih untuk lebih bersikap bijak menyikapi suatu kejadian.